Sinopsis “Badog” Karya Dhipa Galuh Purba dalam Kumpulan Naskah Drama Jeblog

28 Maret 2012 at 08:47 Tinggalkan komentar

Suatu malam di kebun bambu, Iswari merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Seraya mendekap anaknya yang masih bayi, ia teringat mendiang suaminya, Kang Darma, yang meninggal dunia karena terseret ombak tsunami. Ketika itu, tiba-tiba datang Rodiah menghampirinya. Rodiah marah-marah kepada Iswari. Ia menuduh Iswari telah menggoda suaminya. Rodiah tahu bahwa suaminya sering berkunjung ke rumah Iswari dan memberikan makanan untuknya. Amarah Rodiah pun semakin memuncak. Ia menjambak rambut Iswari dengan sekuat tenaga. Saat itu, datanglah Isud, suami Rodiah, untuk melerainya. Ia mencoba melepaskan tangan Rodiah yang kala itu sedang menjambak rambut Iswari. Setelah semuanya terkendali, Isud pun menjelaskan duduk perkaranya kepada Rodiah. Ia menjelaskan bahwa memang ia sering berkunjung ke rumah Iswari dan memberikan makanan untuknya. Itu semua dilakukannya hanya sekadar kasihan saja ingin membantu Iswari. Keadaan Iswari sekarang sedang dalam kesusahan karena sudah tidak ada lagi yang menafkahinya. Selain itu, Isud pun ingin membalas budi baik suaminya yang selama ini telah banyak membantu dirinya. Namun, penjelasan dari suaminya itu tetap tidak membuat Rodiah percaya. Bahkan, Rodiah semakin marah kepada Iswari dan ingin menghajarnya. Melihat kejadian itu, Isud pun kemudian memaksa Rodiah untuk segera pulang ke rumah.

Setelah Rodiah dan Isud pergi, dalam benak Iswari terpikir bahwa seandainya saja Kang Darma masih ada, peristiwa tadi tentunya tidak perlu terjadi. Manakala itu, tanpa Iswari sadari, Odi datang menghampirinya. Iswari pun merasa kaget setelah menyadari bahwa Odi sudah ada di sampingnya. Seketika itu juga Iswari memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Namun, Odi segera menahannya. Ia kemudian merayu Iswari bahwa kedatangannya itu tidak ada maksud berbuat jahat. Ia justru ingin menikahi Iswari dan akan menyayangi anaknya dengan sepenuh hati. Namun, Iswari menolaknya karena Iswari tidak menyukainya dan tidak percaya dengan kata-kata Odi. Kemudian, terlintas dalam benak Odi untuk melakukan hal yang tidak terpuji, yaitu ingin memperkosa Iswari. Di saat kesempatan itu ada, Odi pun tidak menyia-nyiakannya. Odi memaksa Iswari untuk melayani nafsu bejatnya. Iswari berusaha menolak dengan sekuat tenaga. Ia pun berteriak meminta tolong. Tidak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki misterius yang selama ini dikenal sebagai maling oleh penduduk setempat. Ia segera menolong Iswari dari jeratan Odi. Odi pun melarikan diri ketakutan karena diancam akan dibunuhnya.

Setelah Odi pergi, Iswari pun menyampaikan rasa terima kasihnya kepada laki-laki misterius itu seraya menanyakan siapakah gerangan ia sesungguhnya. Laki-laki misterius itu pun membuka penutup mukanya. Seketika Iswari merasa kaget karena ternyata ia mirip dengan mendiang suaminya. Laki-laki misterius itu kemudian menjelaskan tentang siapakah dia sebenarnya. Ia mengaku bernama Badar dan ia adalah adik kandung Kang Darma, suami Iswari. Badar pun menceritakan peristiwa demi peristiwa sehingga ia sampai tiba di kampungnya Iswari dan kemudian berprofesi menjadi maling.

Sementara itu, dari kejauhan terdengar lapat-lapat suara warga yang meneriaki maling. Mendengar hal itu, Badar pun segera meninggalkan Iswari. Selang beberapa saat, datanglah Hansip Baron, Odi, Jang Amanta, Cép Among, dan beberapa laki-laki menghampiri Iswari. Hansip Baron kemudian menanyakan kepada Iswari ke mana larinya maling tadi. Namun, Iswari kebingungan menjawabnya. Atas petunjuk Odi, beberapa laki-laki yang lainnya mengejar maling tersebut, sedangkan Hansip Baron, Jang Amanta, dan Cép Among mengantarkan Iswari dan Odi ke rumah Kadés Ukar untuk dimintai keterangan atas kejadian yang menimpa mereka tersebut.

Di rumah Kadés Ukar sendiri saat itu tengah ada masalah. Kadés Ukar yang ditemani Ulis Kowi sedang menginterogasi Ubéd atas laporan Néng Lia bahwa Ubéd mengintipnya ketika ia mandi. Ubéd pun mengakuinya bahwa ia memang sering mengintip Néng Lia mandi. Bahkan, hampir semua warga pernah ia intip kesehariannya. Belum juga beres masalah Ubéd dan Néng Lia, datanglah Rodiah dan Isud. Rodiah menanyakan kabar tentang maling di kampungnya itu kepada Kadés Ukar, apakah sudah tertangkap atau belum. Wajar jika Rodiah menanyakan hal tersebut karena emas miliknya telah dicuri oleh maling itu. Kadés Ukar pun kemudian memutuskan bahwa kasus Ubéd dan Néng Lia ditunda dulu untuk sementara waktu. Sontak saja, Néng Lia pun dengan kesalnya meninggalkan rumah Kadés Ukar.

Kedatangan Rodiah dan Isud ke rumah Kadés Ukar ternyata menimbulkan bencana dalam kehidupan rumah tangga mereka berdua. Pertengkaran mereka berdua tersulut oleh celotehan Ubéd yang menyinggung-nyinggung kedekatan antara Rodiah dan Kadés Ukar. Kontan saja Isud jadi terbakar api cemburu. Tanpa menunggu lagi kabar selanjutnya tentang maling yang mencuri emas miliknya itu, Isud pun kemudian memaksa Rodiah untuk pulang. Ia ingin menanyakan lebih lanjut tentang gosip tak sedap antara Rodiah dengan Kadés Ukar.

Setelah Rodiah dan Isud pergi, tibalah Hansip Baron, Jang Amanta, Cép Among, Odi, dan Iswari di rumah Kadés Ukar. Kemudian Kadés Ukar menanyakan kepada Hansip Baron perihal kejadian memburu maling itu. Hansip Baron menjelaskan bahwa menurut keterangan Odi, maling itu akan memperkosa Iswari di kebun bambu. Untungnya, datanglah Odi menyelamatkan Iswari dan maling itu pun kabur melarikan diri karena ketakutan. Mendengar hal itu, Iswari tentu saja ingin menjelaskan kronologis kejadian sebenarnya, tetapi tidak sempat karena Odi malah menyuruhnya untuk segera pulang dan beristirahat. Kadés Ukar pun membenarkan, kemudian menyuruh Ulis Kowi untuk mengantarkan Iswari pulang. Iswari pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menurut saja karena memang sudah larut malam dan ia sendiri ingin istirahat, terutama ia kasihan kepada anaknya yang masih bayi. Selain itu, Kadés Ukar pun menyuruh Jang Amanta dan Cép Among untuk mengantarkan Odi dan Ubéd pulang.

Sebelum mengantarkan Iswari pulang, Ulis Kowi sempat bertanya kepada Kadés Ukar perihal bantuan korban bencana tsunami, apakah akan diberikan sekarang kepada Iswari atau tidak. Belum juga selesai berbicara, Kadés Ukar dengan isyarat mata yang melotot menyuruh Ulis Kowi untuk diam. Kadés Ukar pun akhirnya memerintahkan Hansip Baron untuk mengantarkan Iswari pulang. Setelah semuanya pulang, Kadés Ukar menginstruksikan Ulis Kowi agar bantuan korban bencana tsunami jangan dulu diberitahukan kepada warga. Untuk memuluskan niatnya, bahkan Kadés Ukar berjanji kepada Ulis Kowi akan menebus motornya yang ada di bengkel. Namun, Ulis Kowi menolaknya dengan halus. Ia hanya minta izin untuk pulang dulu karena ingin istirahat.

Keesokan harinya, tampak Iswari sedang bekerja membereskan kasur dan kemudian menidurkan bayinya. Di luar terdengar suara Isud dan Rodiah yang sedang bertengkar hebat karena permasalahan semalam. Tiba-tiba datang Rodiah menghampiri Iswari dan kemudian marah-marah. Rodiah menuduh bahwa pertengakarannya dengan Isud itu semua karena Iswari. Ketika Rodiah hendak menampar Iswari, datanglah Isud mencegahnya. Isud pun dengan berangnya mengusir Rodiah untuk pergi. Setelah Rodiah pergi, Isud berwasiat kepada Iswari bahwa seluruh hartanya akan diberikan kepada anak Iswari karena Isud akan pergi jauh meninggalkan kampungnya. Sebelum sempat Iswari berkata apa-apa lagi, Isud telah lebih dulu pamit meninggalkan Iswari.

Setelah Isud pergi, datanglah Badar menemui Iswari. Ia menyampaikan keinginannya untuk membawa anaknya Iswari ke rumah kakeknya. Iswari pun mempersilakan dengan senang hati, apalagi jika dirinya diajak ikut serta. Kontan saja, Badar langsung mengiyakan. Bahkan, jika boleh, ia ingin sekaligus mempersunting iswari menjadi istrinya. Belum sempat Iswari menjawab permintaan Badar, di luar terdengar Kadés Ukar memanggil-manggil nama Iswari. Mendengar hal itu, Badar pun cepat-cepat bersembunyi di belakang lemari.

Sesampainya di rumah Iswari, Kadés Ukar kemudian menyampaikan maksud kedatangannya. Kadés Ukar sangat kasihan sekali melihat kehidupan Iswari semenjak ditinggal mati oleh suaminya. Untuk itu, ia ingin menawarkan bantuan kepada Iswari. Belum sempat Kadés Ukar menjelaskan bentuk bantuannya seperti apa, di belakang lemari terdengar suara gaduh. Hal tersebut membuat Kadés Ukar curiga. Ia kemudian ingin memastikan ada apa di balik lemari itu. Namun, Iswari menghalang-halangi niatnya dengan mengatakan bahwa tidak ada apa-apa. Kadés Ukar tetap tidak percaya. Akhirnya, Iswari tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ketika Kadés Ukar akan mendekati sumber suara di balik lemari itu, tiba-tiba dari luar terdengar Hansip Baron memanggil-manggil namanya.

Datanglah Hansip Baron di rumah Iswari. Ia mengabarkan kepada Kadés Ukar bahwa Isud telah meninggal dunia. Ia mati gantung diri di dalam rumahnya. Mendengar hal itu, Kades Ukar memutuskan untuk pergi ke rumah Isud. Namun, ia masih penasaran dengan teka-teki siapa sebenarnya yang bersembunyi di balik lemarinya Iswari. Ia kemudian mengultimatum orang yang bersembunyi di balik lemari itu. Jika dalam hitungan kelima belum juga menampakkan diri, ia akan menangkapnya. Sampai pada hitungan kelima, orang yang ada di balik lemari itu belum juga keluar. Kemudian Kadés Ukar memerintahkan Hansip Baron untuk menangkapnya. Ketika Hansip Baron hendak menangkapnya, tiba-tiba muncullah Ubéd dari balik lemari itu. Kontan saja Kadés Ukar marah. Kemudian ia memerintahkan Hansip Baron untuk membawa Ubéd ke balai desa sebelum menyusulnya ke rumah Isud.

Sebelum meninggalkan rumah Iswari, Kadés Ukar menyampaikan keinginannya yang sempat tertunda tadi. Ia ingin menikahi Iswari. Iswari akan dijadikan yang kedua oleh Kadés Ukar. Namun Iswari menolaknya dengan halus bahwa hal itu akan dipikirkannya lagi. Mendengar hal itu, Kadés Ukar dengan seraya mengancam meminta jawabannya nanti malam. Jika Iswari bersedia, ia bersyukur sekali. Jika Iswari tidak bersedia, ia tetap akan memaksa Iswari agar menikah dengannya.

Setelah Kadés Ukar dan Hansip Baron pergi, Badar muncul dari persembunyiannya. Ia menyuruh Iswari untuk lekas berbenah menyiapkan kepindahannya. Iswari meminta kepada Badar agar barang curiannya tidak dibawa ikut serta. Mulanya Badar menolaknya, tapi akhirnya mengalah juga setelah diancam Iswari bahwa ia tidak akan ikut bersama Badar jika masih membawa barang curian. Ketika hendak akan pergi, di luar terdengar warga meneriaki maling. Kontan saja Iswari dan Badar kaget. Iswari menyuruh Badar cepat-cepat bersembunyi lagi.

Tidak lama kemudian, datanglah Ubéd dalam keadaan tangan terikat seraya bibirnya menggigit secarik kertas. Dengan isyarat dari Ubéd, Iswari kemudian mengambil kertas tersebut. Ternyata surat tersebut adalah surat wasiat dari Isud untuk Iswari yang disembunyikan oleh Kadés Ukar di lemari kantor kerjanya. Selang beberapa saat datanglah Kadés Ukar, Hansip Baron, Jang Amanta, dan Cép Among. Kadés Ukar dengan marahnya mengatakan bahwa selain sebagai tukang intip, ternyata Ubéd juga sebagai pencuri. Bahkan Kadés Ukar menuduh bahwa ada persekongkolan antara Ubéd dengan Iswari. Kemudian Kadés Ukar memerintahkan kepada Hansip Baron untuk menangkap Ubéd dan Iswari. Tiba-tiba dari belakang lemari, Badar keluar dan mengaku bahwa dialah maling sebenarnya yang selama ini dicari oleh masyarakat. Ia mempersilakan jika dirinya akan ditangkap, tetapi ia minta jangan mengganggu Iswari dan Ubéd karena mereka berdua tidak bersalah. Badar pun kemudian dibawa ke balai desa oleh Hansip Baron, Jang Amanta, dan Cép Among.

Setelah Badar tertangkap, Kadés Ukar kemudian mengancam Iswari bahwa ia pun akan dimasukkan ke dalam penjara karena sudah menyembunyikan maling, kecuali jika Iswari menyerahkan surat wasiat dari Isud kepadanya. Namun, Iswari menolaknya, bahkan ia pun merobek-robek surat wasiat tersebut. Kemudian, ia meminta kepda Ubéd agar merawat anaknya. Dengan berani, Iswari menunjukkan barang curian yang telah dicuri Badar seraya menantang Kadés Ukar untuk menjebloskannya ke dalam penjara. Kades Ukar pun kemudian merayu Iswari agar bersedia menjadi istrinya saja. Ia tak rela jika melihat Iswari harus masuk penjara. Namun, Iswari menolaknya dengan mentah-mentah. Iswari justru lebih bahagia masuk penjara daripada harus menjadi istrinya Kadés Ukar. Mendengar hal itu, Kadés Ukar pun hanya bisa diam terpaku.

Sementara itu Hansip Baron datang kembali menemui Kadés Ukar. Ia menanyakan apakah Iswari akan ditangkap juga. Dengan tegas Kadés Ukar menjawabnya bahwa sekalian saja Iswari ditangkap karena telah berani menyembunyikan maling. Kemudian, ia mengancam Ubéd bahwa jika sampai Ubéd berani berkata macam-macam, Ubéd pun akan mengalami nasib yang sama dengan Iswari, yaitu akan dijebloskan ke dalam penjara.

Entry filed under: Sinopsis. Tags: , .

1330 Babasan dan Paribasa Bahasa Sunda Menggunting, Mencocok, Menempel, Mewarna, dan Melipat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Credits



Sekolah Victory Plus

Kalender

Maret 2012
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Chat With Me

e-mail:
bujanggamanik@yahoo.co.id
HP:
08996967134

Blog Stats

  • 34,770 hits

%d blogger menyukai ini: